logo efishery retina colored
cara sukses polikultur udang vaname dengan bandeng

Halo, Bapak/Ibu Petambak! Apakah Bapak/Ibu pernah mendengar tentang polikultur udang vaname dan bandeng? Polikultur adalah metode budidaya yang menggabungkan pemeliharaan 2 komoditas perikanan dalam satu tambak atau kolam, atau dalam hal ini, kedua komoditasnya adalah udang vaname dan ikan bandeng. Pada udang vaname dan ikan bandeng, polikultur dilakukan untuk meningkatkan taraf produktivitas dengan hubungan yang saling menguntungkan. Lantas, bagaimana udang vaname dan ikan bandeng bisa saling diuntungkan melalui polikultur? Cari tahu jawabannya di artikel ini, yuk!

Syarat Polikultur Udang Vaname dan Bandeng 

Polikultur udang vaname dan bandeng tidak bisa dilakukan begitu saja, harus ada beberapa syarat yang wajib Bapak/Ibu penuhi selama polikultur berlangsung. Syarat-syarat tersebut adalah:

  1. Polikultur udang vaname dan bandeng sebaiknya dilakukan di tambak dengan salinitas air yang rendah. Hal ini dilakukan agar proses perawatannya menjadi jauh lebih mudah.
  2. Polikultur harus dilakukan dengan jenis ikan yang memiliki perbedaan karakteristik dan kebiasaan makan dengan udang vaname agar tidak terjadi persaingan dalam mendapatkan pakan dan ruang gerak.
  3. Polikultur tidak bisa dilakukan di budidaya intensif atau budidaya dengan padat tebar tinggi. Hal ini dikarenakan kepadatan udang vaname dan bandeng yang terlalu tinggi justru akan membuat polikultur tidak produktif dan efisien.

Keunggulan Polikultur Udang Vaname dengan Bandeng 

petambak udang membawa udang
Sumber: eFishery

Penentuan komoditas perikanan yang digunakan dalam polikultur merupakan salah satu masalah yang sering dihadapi. Ikan bandeng dan udang vaname mempunyai sifat atau karakteristik yang berbeda namun memiliki syarat lingkungan yang sama. Perbedaan karakteristik tersebutlah yang menjadikan keduanya cocok untuk dibudidayakan bersama dengan sistem polikultur. 

Udang vaname dan ikan bandeng merupakan kombinasi komoditas perikanan polikultur yang paling efektif karena keduanya bisa memanfaatkan pakan alami yang tersedia di kolam secara maksimal. Polikultur udang vaname dan bandeng dinilai dapat mengatasi permasalahan lumut di tambak karena lumut merupakan salah satu pakan alami bandeng. Dengan begitu, lumut yang dianggap bisa mengganggu metabolisme udang vaname akan bermanfaat bagi ikan bandeng sebagai pakan alami.

Cara Polikultur Udang Vaname dan Bandeng 

ilustrasi tambak udang
Sumber: eFishery

1. Persiapan Tambak

Untuk menyukseskan polikultur udang vaname dan ikan bandeng, persiapan tambak yang baik sangat diperlukan. Berikut adalah tahapan-tahapan persiapan tambak yang dibutuhkannya:

a. Pengeringan

Pengeringan lahan tambak memerlukan waktu selama 15-30 hari, tergantung musim. Pengeringan dasar tambak pada musim kemarau dapat berlangsung lebih singkat dibandingkan dengan pengeringan yang dilakukan pada musim hujan. Pada tahap pengeringan dilakukan juga perbaikan pematang dan caren agar memudahkan proses polikultur.

b. Pengapuran dan Pemupukan

Pengapuran dilakukan setelah tambak benar-benar kering. Proses ini dikerjakan dengan menggunakan bubuk kapur pertanian CaMg (CO3)2 yang dicampurkan dengan air dan didiamkan selama 3-7 hari. Pengapuran dilakukan untuk mengetahui keberadaan hama di dalam tambak. Jika terdapat hama, Bapak/Ibu bisa menaburkan saponin ke tambak dan mendiamkannya selama 7-14 hari.

Jika keberadaan hama sudah tidak ada lagi, Bapak/Ibu bisa melakukan pemupukan dengan mencampurkan pupuk urea serta pupuk SP36 dan mendiamkannya selama 7 hari. Setelah 7 hari, Bapak/Ibu bisa mengisi air tambak dengan ketinggian 10 cm untuk menumbuhkan pakan alami berupa klekap dan ganggang yang merupakan makanan bandeng dan udang vaname

c. Penebaran Bibit Bandeng dan Benur Vaname

petambak menebar benur udang
Sumber: eFishery

Bandeng yang cocok dipolikulturkan adalah bandeng dengan panjang tubuh 7-10 cm dengan padat tebar 1 ekor/m2. Sebelum ditebar ke tambak, Bapak/Ibu perlu menampung bibit bandeng terlebih dahulu di petakan. Petakan perlu ditempatkan di dekat pintu pintu air tambak yang diberi waring (hapa) berbentuk persegi panjang dan tiap sudutnya diberi penahan agar tidak kendor.

Penebaran dilakukan pada pukul 08.00 pagi atau menjelang pukul 04.00 sore untuk menghindari adanya perbedaan suhu yang terlalu besar dari air pengangkut ke air tambak. Sebelum ditebar ke tambak, bibit bandeng harus beradaptasi dengan suhu air yang ada di tambak atau mengalami proses aklimatisasi. Proses adaptasi ini dapat dilakukan dengan mengapungkan kantong plastik yang berisi bibit bandeng di atas permukaan air petakan selama 30-60 menit agar suhu yang ada di kantong sama dengan suhu air tambak pembesaran. 

Setelah suhu air kantung sama dengan suhu air tambak, buka kantong plastik dibuka dan masukkan air tambak sedikit demi sedikit sampai kantong terisi penuh dengan air tambak. Apabila bibit bandeng kelihatan sudah dapat beradaptasi dengan air yang ada di tambak, bibit bandeng dapat ditebar ke petakan aklimatisasi. Bila bibit bergerak aktif dan ingin keluar dari petakan aklimatisasi, buka petakan aklimatisasi secara perlahan dan biarkan bibit bandeng berenang ke tambak pembesaran. Setelah kurang lebih 1 bulan, benur udang vaname baru dapat ditebar ke tambak pada ukuran PL 7 dengan padat tebar 5 ekor/m2.

Penebaran bibit bandeng dilakukan terlebih dahulu karena bertujuan untuk mengurangi jumlah klekap yang ada di tambak pembesaran. Hal ini dikarenakan konsentrasi klekap yang tinggi dapat mengganggu pergerakan dan pertumbuhan benur udang.

2. Pemeliharaan

petambak memeriksa kualitas air tambak udang
Sumber: eFishery

Pemeliharaan dan perawatan bibit bandeng dan benur udang vaname dilakukan dengan mengontrol kualitas air, volume air, dan kuantitas pakan alami yang terdapat di tambak. Dalam menjaga kualitas air, perlu dilakukan pemupukan agar pakan alami bisa tumbuh di tambak. Jika Bapak/Ibu juga ingin menggunakan pelet sebagai pakan udang vaname saat polikultur berlangsung, Bapak/Ibu bisa menyesuaikan manajemen pakannya dengan budidaya biasa (non polikultur)

Selain itu, Bapak/Ibu juga perlu mengontrol kadar kualitas air (ketinggian, salinitas, pH, dan suhu) 1 kali seminggu karena bisa mempengaruhi pertumbuhan kedua komoditas polikultur. Jika kualitas air sudah diperhatikan, kuantitasnya juga perlu dipertahankan. Bapak/Ibu bisa mengontrol volume air dengan memberi tambahan air ketika ketinggian air tambak berada di bawah 90 cm. Apabila tambak mengalami fluktuasi kualitas air yang tinggi, Bapak/Ibu perlu melakukan pemindahan ikan bandeng dan udang vaname terlebih dahulu dan membuang air tambak yang jelek melalui saluran pengeluaran.

kumpulan udang
Sumber: eFishery

Selain pemantauan kualitas dan kuantitas air, Bapak/Ibu harus melakukan sampling secara rutin. Sampling dilakukan untuk mengetahui rata-rata berat, pertambahan berat, pertambahan biomassa, perkiraan populasi, perkiraan survival rate, dan kondisi kesehatan bandeng dan udang vaname. Sampling yang dilakukan terdiri dari dua metode, yaitu sampling anco dan sampling jala. Sampling anco dilakukan ketika umur udang >30 hari dan <60 hari. Sedangkan sampling jala dilakukan ketika umur udang >60 hari. Biasanya, sampling dilakukan pada pukul  07.00 pagi karena suhu air yang masih rendah pada jam tersebut bisa menghindari stres pada udang.

3. Pengendalian Hama dan Penyakit

Hama yang biasa mengganggu berjalannya polikultur udang vaname dan ikan bandeng adalah ular, ikan kakap, ikan mujair, ikan nila, ikan baronang, dan belut. Selain hama, berbagai penyakit udang juga bisa menyerang kapan saja. Salah satu penyakit udang yang biasa ditemukan pada udang vaname adalah virus bintik putih. Akan tetapi, dalam pembesaran udang vaname secara polikultur, penyakit ini hampir tidak ditemukan di tambak. Untuk ikan bandeng sendiri tidak ditemui adanya penyakit karena bandeng merupakan ikan yang tahan terhadap penyakit. Bapak/Ibu bisa memasang jaring (waring) pada pintu masuk air dan saluran paralon agar hama tidak masuk ke tambak pemeliharaan.

4. Pemanenan

petambak bersiap panen udang
Sumber: eFishery

Dalam polikultur udang vaname dan bandeng, pemanenan dapat dilakukan secara parsial (sebagian) dan total. Namun, panen parsial hanya dilakukan untuk memanen udang vaname karena pemeliharaan udang vaname dapat dilakukan dengan waktu yang singkat (3 bulan).  Untuk memanen udang vaname, Bapak/Ibu bisa menggiring udang ke pintu keluar yang sudah dipasangi prayang sebagai wadah untuk mengumpulkan udang. Setelah terkumpul di prayang, udang bisa langsung diangkat dan ditimbang untuk dijual. 

Berbeda dengan panen parsial, pemanenan total dilakukan untuk memanen ikan bandeng pada size 8 pada masa pemeliharaan 5 bulan dan udang vaname sisa panen parsial. Pemanenan ikan bandeng dilakukan dengan membuang seluruh air yang ada di tambak pembesaran dan memasang waring pada pintu keluar air untuk mencegah ikan untuk keluar saat proses pembuangan air. Ketika pemanenan selesai, ikan bandeng yang terkumpul bisa langsung dicuci agar lumpur yang ada di tubuhnya bisa hilang. Jika bandeng sudah bersih dari lumpur, Bapak/Ibu bisa langsung memasarkannya.

Konsultasikan Polikultur Udang Vaname Langsung dengan Ahlinya!

Butuh Bantuan Terkait Bisnis Budidaya Udang?

Isi data diri Bapak/Ibu di formulir berikut ini. Tim kami akan segera menghubungi Bapak/Ibu melalui nomor handphone yang terlampir. Pastikan data yang diisi sudah benar.

Budidaya dengan mempolikulturkan udang vaname dan ikan bandeng memang dilakukan dengan cara yang berbeda jika dibandingkan budidaya pada umumnya. Hal ini dikarenakan polikultur menggabungkan 2 spesies dengan karakteristik yang tidak sama, sehingga perawatan dan persiapan khusus sangat diperlukan untuk panen yang maksimal.

Jika Bapak/Ibu ingin mencari lebih banyak lagi ilmu tentang polikultur udang vaname dan bandeng, Bapak/Ibu bisa berkonsultasi terlebih dahulu dengan ahli budidaya udang eFishery melalui fitur Konsultasi Budidaya di aplikasi eFarm. Selain bisa berkonsultasi langsung dengan ahli budidaya udang, di aplikasi eFarm Bapak/Ibu juga bisa mencari informasi lain seputar budidaya udang.

Isi formulir di atas untuk berkonsultasi di Konsultasi Budidaya!

Pertanyaan Seputar Polikultur Udang dengan Bandeng

Ya, budidaya udang vaname dan bandeng dilakukan di tambak. Bapak/Ibu juga bisa budidaya udang vaname dengan bandeng secara polikultur. Polikultur udang vaname dan bandeng dinilai dapat mengatasi permasalahan lumut di tambak karena lumut merupakan salah satu pakan alami bandeng. Dengan begitu, lumut yang dianggap bisa mengganggu metabolisme udang vaname akan bermanfaat bagi ikan bandeng sebagai pakan alami.

Related Post