TLV: Ancaman Langsung Perikanan Budidaya Indonesia

Artikel yang ditulis aquaculture scientist kami berikut ini adalah rangkuman materi dari acara “Seminar Pencegahan Penyakit Tilapia Lake Virus (TiLV) di Indonesia” yang diselenggarakan KKP di Jakarta, 9 Agustus 2017 lalu.

Virus TiLV pertama kali ditemukan melalui studi kematian massal ikan nila (Oreochromis niloticus) yang terjadi di Danau Kinneret, Israel. Studi tersebut dilakukan oleh Eyngor et. al.  pada tahun 2014. Virus tersebut kemudian menyebar ke negara lain secara cepat sehingga pada tahun 2017 negara yang telah terkonfirmasi terkena wabah virus TiLV pada ikan nila meliputi Israel sebagai negara awal wabah, Mesir, Ekuador, Kolombia dan Thailand (FAO 2017). Penyebaran dan kekhawatiran ancaman langsung pada sektor budidaya perikanan secara umum karena ikan nila sangat populer untuk budidaya, mempunyai sifat unggul berupa mudah dalam pembenihan, cepat tumbuh, relatif tahan serangan penyakit (sebelum ada wabah TiLV), rasa dapat diterima semua selera dan diterima pasar global karena dapat di-fillet.

Ikan nila tak hanya populer di kalangan pembudidaya ikan namun juga merupakan jenis komoditas ikan kedua paling banyak dibudidayakan setelah ikan mas (Cyprinus carpio). Indonesia saat ini produsen ikan nila terbesar kedua dunia dengan produksi per tahun mencapai 1,12 MT (Metric Tone) dibawah Cina dengan nilai 1,78MT (FAO 2017). Negara produsen ikan nila lainnya yaitu Mesir, Thailand, Laos, Honduras, Ekuador, Colombia dan Costarica. Serangan wabah terhadap budidaya ikan nila akan menyebabkan jumlah produksi perikanan budidaya berkurang drastis seperti yang terjadi ketika virus KHV (Koi Herphes Virus) menyerang budidaya ikan mas pada tahun 1998 (Nica 2013).

Gejala TiLV

Beberapa gejala wabah TiLV secara umum antara lain mata infeksi mengkerut atau membengkak, luka lecet, dan ginjal membesar. Gejala penularan muncul 10-13 hari semenjak penularan individu pertama (Eyngor 2014). Ketika budidaya ikan nila terkena wabah maka kerugian akan sangat besar karena kematian  yang ditimbulkan bisa mencapai 80-100% dari populasi pada 14 hari setelah terkena infeksi (Suracetphong et. al. 2017). Gejala serangan  virus secara umum juga mengakibatkan lumpuhnya organ olfaktori sehingga mempersulit ikan menemukan sumber pakan (Keawcharoen 2013), dengan gejala kematian terjadi pada 14 hari semenjak tertular pemberian pakan untuk meningkatkan bobot semenjak teramati gejala akan menjadi tak berarti.

BACA JUGA  Stigma Negatif Ikan Nila
Pengendalian TiLV

Tindakan pengendalian virus TiLV yang bsa dilakukan secara praktis antara lain biosecurity ikan baru datang beserta airnya (Dong et. al. 2017), mensucihamakan peralatan perikanan yang berasal dari luar, memusnahkan ikan yang terindikasi sakit dengan cara dibakar atau dikubur, pembatasan perdagangan ikan antar daerah atau antar negara, serta pengendalian perantara wabah penyakit tersebut. Karena wabah penyakit virus pada dasarnya tak bisa disembuhkan, maka prosedur vaksinasi dapat dilakukan sebagai upaya pencegahan serangan wabah efektif (Jansen dan Vishnumurti 2017) selain usaha terus menerus untuk menyeleksi ikan nila tahan virus TiLV. Secara umum Standar Operasional Prosedur (SOP) Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) sudah melingkupi usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah penyebaran wabah TiLV dan fasilitas karantina ikan merupakan komponen penting terutama dalam usaha budidaya pembenihan ikan nila (KKP 2007).

Pada saat ini Indonesia belum terkonfirmasi masuk ke dalam negara terkena wabah TiLV, tetapi langkah cepat dan terstruktur perlu dilakukan untuk mendiagnosa penularan  awal dan tindakan pencegahan penularan lebih lanjut. Analisa resiko perlu dilakukan bagi perusahaan yang berkonsentrasi pada produksi ikan nila, karantina ketat terhadap ikan nila yang akan masuk ke wilayah Indonesia juga perlu dilakukan, selain penyelidikan lengkap mengenai laporan wabah kematian ikan nila (terutama mencolok) yang terjadi di seluruh wilayah Indonesia (BKIPM 2017).

Referensi

Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu. 2017. Keputusan Kepala Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Penetapan Tilapia Lake Virus (TiLV) Sebagai Penyakit Ikan Yang Dicegah Pemasukannya Kedalam Wilayah Negara Republik Indonesia.   http://www.bkipm.kkp.go.id/bkipmnew/public/files/regulasi/SK%20PENETAPAN%20TiLV%20SBG%20PENYAKIT%20IKAN%20YG%20DICEGAH%20MASUK%20KE%20RI.pdf
Dong, H. T., Rattanarojpong, T., Senapin, S. 2017.  Urgent Update on Possible Worldwide Spread of Tilapia Lake Virus (TiLV). https://enaca.org/?id=870&title=urgent-update-on-possible-worldwide-spread-of-tilapia-lake-virus-tilv
Eyngor M., Zamostiano R., Kembou TJE., Berkowitz A., Bercovier H., Tinman S., Lev M., Hurvitz A., Galeotti M., Bacharach E., Eldar A. 2014. Identification of a Novel RNA Virus Lethal to Tilapia. J Clin Microbiol. 2014 Dec;52(12):4137-46. doi: 10.1128/JCM.00827-14. Epub 2014 Sep 17.
Food and Agriculture Organization. 2017. Outbreaks of Tilapia Lake Virus (TiLV) Threatens the Livelihoods and Food Security of Millions People Dependent on Tilapia Farming. http://www.fao.org/fileadmin/user_upload/newsroom/docs/web_GIEWS%20Special%20Alert%20338%20TiLV.pdf
Jansen, M. D., Vishnumurthy, C.  2017. Tilapia Lake Virus (TiLV): Literature Review. Authors Mohan Affiliation, Norwegian Veterinary Institute. WorldFish
Kementrian Kelautan dan Perikanan. 2007. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia No. Kep. 02/Men/2007 Tentang Cara Budidaya Ikan Yang Baik. https://empangqq.files.wordpress.com/2013/07/kep-02-men-2007-tentang-cara-budidaya-ikan-yang-baik.pdf
Nica, A. 2013. The Current Problem: Koi Herpher Virus. Dunarea de Jos University, Galati, Romania. http://www.uaiasi.ro/zootehnie/Pdf/Pdf_Vol_59/Aurelia_Nica.pdf.
Surachetpong, W., Taveesak, J., Nutthawan, N., Puntanat, T., Kwanrawee, S., Alongkorn A. 2017. Outbreaks of Tilapia Lake Virus Infection, Thailand, 2015–2016.
Kasetsart University, Bangkok, Thailand. Chulabhorn Research Institute, Bangkok (K. Sirikanchana); Ministry of Education, Bangkok (K. Sirikanchana). https://wwwnc.cdc.gov/eid/article/23/6/pdfs/16-1278.pdf. 2017

Bagikan: