Artemia, Pakan Alami Esensial untuk Larva Ikan dan Udang

artemia, pakan larva

 

Zarah Fazri Khotimah

Alumni Magister Akuakultur dari Ghent University, Belgia. Penelitiannya fokus pada aplikasi probiotik dan artemia sebagai pakan larva udang.

 

 

Apa sih Artemia itu?

Artemia termasuk pada kelompok krustasea, yaitu famili yang anggotanya terdiri dari lobster, udang, kepiting. Artemia mampu hidup di lingkungan dengan rentang kadar garam luas (3-300 g/L), teradaptasi dengan suhu yang lingkungan yang fluktuatif (6-35°C) dan pH netral hingga basa. Sumber utama produksi alami Artemia cyst (embrio yang terlindung dalam cangkang keras) awalnya adalah Great Salt Lake lalu menyusul area lain yaitu Danau Urmia (Iran), Pavlodar (Kazakhstan), Karabogaz Gol (Turkmenistan), Siberia Selatan, Argentina, Australia, Canada, Colombia, Perancis dan China.

Artemia sebagai pakan alami

Salah satu langkah pengembangan akuakultur adalah dengan dikuasainya keseluruhan siklus budidaya untuk berbagai macam jenis ikan dan udang sehingga proses budidaya tidak tergantung lagi kepada ketersediaan baik benih dan pakan di alam. Dalam proses pembenihan, ketersediaan pakan alami seperti Artemia merupakan faktor yang penting dan dibutuhkan sebagai pakan awal untuk beberapa spesies ikan dan udang. Artemia begitu penting karena memiliki kandungan protein tinggi, asam lemak tak jenuh, berbagai macam asam amino esensial, enzim, pigmen (canthaxanthin), vitamin C dan mineral.

Kelebihan penggunaan artemia sebagai pakan alami adalah karena secara komersil Artemia tersedia dalam bentuk cyst, yaitu bentuk dorman (metabolism tidak aktif) dengan kadar air sangat rendah, yang dapat disimpan dalam waktu lama serta digunakan kapanpun dibutuhkan. Selain itu, larva Artemia merupakan pemakan non-selektif (unselective filter feeder) sehingga dapat digunakan sebagai media transfer nutrisi esensial, pigmen, senyawa obat yang ditujukan untuk larva ikan/udang.

Sistem Artemia hatching
Sistem Artemia hatching (dok pribadi)

 

Artemia diperlukan sebagai pakan alami dalam bentuk larva (terutama tahap instar I dan II) yang didapat dari penetasan cyst atau yang dikenal sebagai Artemia hatching. Proses ini dilakukan dengan menempatkan sejumlah cysts dalam corong yang berisi air laut (kadar garam 35-40 g/L) dengan tambahan aerasi dan diinkubasi pada suhu ruangan selama 24-36 jam hingga menetas. Prosedur disinfeksi diperlukan dalam prosen hatching ini untuk memaksimalkan persentasi cysts yang menetas juga untuk menghilangkan kontaminasi mikroorganisme. Larva Artemia dipanen dengan bantuan pemberian cahaya kuat karena sifat larva artemia yang tertarik oleh cahaya. Larva yang telah dipanen dapat langsung di berikan pada larva ikan /udang, ataupun dipelihara dahulu untuk tujuan tertentu seperti pemberian nutrisi tambahan (enrichment) sebelum digunakan.

Tahap awal Artemia hatching
Tahap awal Artemia hatching
Potensi Indonesia dalam memproduksi Artemia cyst

Indonesia sebagai negara dengan sumber daya alam yang sebetulnya cocok untuk produksi Artemia cysts, belum mampu memaksimalkan potensinya. Pemenuhan kebutuhan pakan alami ini untuk larva ikan dan udang di Indonesia masih didapat dari impor cyst dari Amerika Serikat, China dan Vietnam dengan nilai yang sangat besar yaitu Rp 56 miliar per tahun untuk mendatangkan 40 ton cyst. Untuk itu, pemerintah sudah menggalakkan program produksi Artemia sejak tahun 2016 lalu di tiga daerah potensial Jepara (luas produksi 5 hektar), Rembang (10 hektar) dan Madura (0.5 hektar). Produksi Artemia yang dilakukan bukan hanya berupa cyst tetapi juga biomassa yang dipanen langsung. Produksi Artemia cyst pada program ini diprediksi mampu mencapai 200-300 kg cysts per hektar setiap siklusnya (3-4 bulan), serta memproduksi 400 kg biomassa Artemia per hektar.  Total nilai ekonomi (keuntungan) yang didapat bisa mencapai Rp 90 juta per hektar dari setiap siklusnya.

Kaitan unik Artemia dengan bakteri

Penggunaan Artemia sebagai pakan alami sebenarnya bisa menjadi media pembawa bakteri penyebab penyakit ataupun bakteri probiotik. Larva Artemia yang ditetaskan tanpa proses disinfeksi atau sterilisasi dapat menjadi sumber bakteri patogen. Di sisi lain, proses penetasan cysts yang dilakukan dengan baik sesuai prosedur disinfeksi dan dalam lingkungan steril dapat digunakan sebagai jalan aplikasi probiotik.

Apa itu probiotik?

Probiotik diketahui sebagai bakteri yang dapat ditambahkan ke dalam sistem budidaya dengan tujuan untuk pencegahan/pertahanan kesehatan hewan budidaya. Probiotik biasa diberikan sebagai suplemen yang membantu memanipulasi komposisi komunitas bakteri yang ada dalam lingkungan budidaya dan juga sistem tubuh hewan budidaya, sekaligus mengurangi keberadaan bakteri penyebab penyakit yang sifatnya oportunis di lingkungan. Beberapa penelitian sudah mencoba mengefisiensikan penggunaan Artemia sebagai media pembawa probiotik dengan memanfaatkan air limbah penetasan Artemia yang mengandung banyak karbon dan nitrogen sebagai media kultur bakteri probiotik. Nutrisi utama yang dibutuhkan untuk pertumbuhan bakteri terbukti tersedia dalam air limbah penetasan Artemia cysts. Dengan cara in, air limbah sisa penetasan Artemia yang volumenya tidak sedikit bisa dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi kultur bakteri probiotik, asalkan prosedur desinfeksi dan hatching dilakukan dengan benar.


Sumber:

Cam DTV, Hao NV, Dierckens K, Defoirst K, Boon N, Sorgeloos P and Bossier P. 2009. Novel approach of using homoserine lactone-degrading and poly-β-hydroxybutyrate-accumulating bacteria to protect Artemia from the pathogenic effects of Vibrio harveyi. Aquaculture 291: 23-30.
Dhont J and Van Stappen G. 2003. Biology, tank production and nutritional value of Artemia. In: Støttrup JG and McEvoy LA. Live feeds in marine culture. Oxford: Blackwell Science, 35-121.
Khotimah ZF. 2015. An integrated Artemia-Probiotic production approach to increase larviculture efficiency. Master dissertation. Ghent University, Belgium.
Stickney RR. 2005. Aquaculture an Introductory Text. Wallingford UK: Cabi.
Thai TQ. 2015. Application of poly-β-hydroxybutyrate accumulating bacteria in crustacean larviculture. PhD dissertation. Ghent University, Belgium.
Van Stappen G. 1996. Introduction, biology, ecology of Artemia. In: Lavens P and Sorgeloos P (eds): Manual on the production and use of live food for aquaculture. FAO Fisheries Technical Paper 361: 79-106.

KKP Fokus Kembangkan Udang Windu dan Pakan Alami Artemia

Bagikan:

Info Terbaru, Tips Budidaya, dan Promo Perikanan

Dapatkan informasi akuakultur terbaru dan promo-promo produk perikanan langsung ke email Anda!

Anda sudah terdaftar :)