Hemat Pakan Untuk Jaga Lingkungan

Tanggal 22 April kemarin, dunia merayakan Hari Bumi. Setiap tahunnya, Hari Bumi selalu dipenuhi oleh kampanye yang mengingatkan kita tentang bagaimana menjaga satu-satunya planet yang ditinggali bersama ini. Ada banyak yang bisa dilakukan. Kita bisa dengan cerdas menggunakan listrik, air, bensin, menjadikan lingkungan lebih hijau dengan menanam pohon, juga bijak memilih makanan sehat dan minim limbah; seperti sayur, buah—dan ikan!

Ikan adalah sumber protein hewani yang tidak banyak membutuhkan banyak sumber daya untuk menghasilkan lebih banyak daging. Ikan tangkap, nelayan “hanya butuh” kecakapan mendapatkan ikan yang didukung perahu/kapal, berton-ton ikan salmon/tuna/kakap bisa didapatkan. Ikan budidaya, yang sama-sama membutuhkan lahan, pakan, dan perawatan seperti sapi, kambing, dan ayam, ternyata tetap efisien. Dibandingkan hewan-hewan tersebut, ikan memiliki nilai FCR (Feed Conversion Ratio) yang paling kecil. Simak infografis berikut;

Tidak hanya minim limbah pakan, dalam budidaya perikanan juga penggunaan lahannya lebih efisien, air relatif lebih hemat, dan emisi karbon dioksida sangat kecil dibandingkan yang diproduksi oleh peternakan hewan darat.

Meski demikian, limbah tetaplah limbah. Masalah limbah pakan ini juga merupakan salah satu isu utama yang menjadi perhatian petani. Penggunaan pakan meraup hampir 80% dari modal sehingga kadang petani mendapatkan margin yang tipis. Belum lagi pakan buatan tersebut juga banyak tersisa dan menjadi limbah karena tidak semuanya efektif dimakan ikan. Dampaknya, kualitas air menurun dan kesehatan ikan terancam.

Untuk mengatasinya, banyak petani yang kemudian membuat pakan mandiri. DJPB (Direktorat Jendera Perikanan Budidaya) sendiri mendorong Gerpari atau Gerakan Pakan Ikan Mandiri agar dilaksanakan oleh kelompok pembudidaya. Sudah banyak pula petani yang mulai mengganti pakan pabrikan dengan pakan alami yang berperan sekaligus sebagai obat herbal bagi ikan. Pakan jenis tersebut biasanya terdiri dari ikan runcah, campuran ampas tahu dengan berbagai rempah seperti bawang dan jahe.

BACA JUGA  Azolla: Protein Nabati Bagi Ikan

Kelompok Tani Bina Tenaga Inti Rakyat (BTIR) Sukmajaya, Depok, Jawa Barat, misalnya, membuat pakan mandiri dengan mengolah limbah sampah organik (simak cara pembuatannya di post ini). Dengan menggunakan mesin sederhana, kelompok tani ini tidak hanya memproduksi pakan ikan, tapi juga pupuk kompos dan pupuk cair. Diakui Rudi Morudi selaku Ketua Kelompok Tani, kegiatan usaha ini mampu mengurangi volume sampah sekaligus membuka lapangan kerja.

Upaya menghemat pakan juga bisa dilakukan dengan menggunakan smart feeder yang memberi makan ikan secara efektif. Teknologi yang dikembangkan eFishery ini dapat secara berkala memberi makan sesuai jadwal yang ditentukan, bahkan malam hari. Pemberian pakan yang berkala dengan dosis tertentu ini bertujuan untuk memastikan sebagian besar pakan sudah termakan ikan sebelum dosis pakan berikutnya diberikan.

Smart feeder mampu melontarkan pakan secara merata sehingga ikan tidak saling berebut makan. Untuk ikan nila, contohnya, “saling sikut” pada saat diberi makan ini seringkali menimbulkan busik pada kulit ikan sehingga menurunkan kualitasnya. Hasil penggunaan smart feeder ini menunjukkan bahwa FCR mampu ditekan sampai 20% dengan ukuran ikan lebih besar dan masa panen yang lebih cepat! Tidak hanya hemat pakan dan sehatkan ikan, smart feeder juga mendorong petani untuk tingkatkan kesejahteraan.

Sumber:

FishBiz. http://fishbiz.id/
Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. http://www.djpb.kkp.go.id/arsip/c/358/WUJUDKAN-KEMANDIRIAN-MELALUI-PAKAN-IKAN-MANDIRI/?category_id
http://wartaagro.com/berita-cara-membuat-pakan-ikan-dari-sampah-organik.html

Bagikan:

Info Terbaru, Tips Budidaya, dan Promo Perikanan

Dapatkan informasi akuakultur terbaru dan promo-promo produk perikanan langsung ke email Anda!

Anda sudah terdaftar :)