Biosekuriti Pembenihan Udang

Biosekuriti bagi pembudidaya udang, khususnya industri pembenihan, mungkin bukan hal yang baru lagi. Adanya penyakit seperti WFD (white feces disease) dan bintik putih yang cukup fatal bagi udang mengharuskan para pembudidaya memperhatikan pintu-pintu masuk yang berpotensi menghantarkan bibit penyakit.

Dikutip dari SNI nomor 8230:2916, biosekuriti memiliki arti “segala tindakan, prosedur, dan kebijakan yang digunakan untuk mencegah masuk dan tersebarnya patogen seperti bakteri, virus, jamur maupun parasit pada fasilitas produksi pembenihan ikan laut pada suatu wilayah atau negara untuk mencegah terjadinya penyakit yang merugikan secara ekonomi dan lingkungan”. Secara singkat, biosekuriti adalah prosedur keamanan dari kontaminasi. Bagi budidaya udang intensif, yang terdiri dari banyak aspek dari manajemen benur, pakan, kualitas air, sampai manusianya, tentunya ada banyak pula tindakan preventif yang patut diperhatikan.

Indukan dan benur

Untuk mendapatkan benur yang berkualitas, tentu butuh indukan yang unggul pula. Menurut pakar pembenihan udang Bong Tiro (seperti yang dilansir dari Trobos), petambak udang vannamei masih percaya dengan induk impor dari Hawaii (Amerika) dibanding induk lokal. Padahal, indukan lokal juga bisa dikembangkan dan kualitasnya tidak kalah dengan indukan impor.

Induk impor memiliki risiko lintas kawasan yang lebih tinggi sehingga harus dikarantina dulu selama 2 minggu di bandara kedatangan. Proses karantina ini menjamin indukan tidak membawa penyakit.

Penggunaan benur pun, masih menurut Bong Tiro, sebaiknya tidak langsung menggunakan benur pertama karena naupli (stadia benur udang pertama, ukuran 0,5 mm) belum bagus. Baru setelah 2 minggu, baru benur dapat digunakan. Sama seperti induk, benur juga harus dipastikan terbebas dari penyakit, disebut juga benur SPF (Specific Pathogen Free).

Pakan

Saat ini pakan alami masih menjadi andalan dalam industri hatchery udang, baik untuk benur maupun untuk induk. Bagi benur, biasanya pakan alami yang diberikan adalah plankton dan artemia. Sedangkan bagi induk, umumnya adalah cacing laut, cumi, biomassa artemia, kerang, dan tiram.

Pakan alami diminati udang karena adanya bau amis yang memancing nafsu makan udang. Hanya saja pakan alami memiliki risiko kontaminasi sehingga perlu tahapan ekstra dalam mempersiapkan pakan sebelum diberikan ke udang. Di sisi lain, pakan buatan selain lebih kecil risiko kontaminasinya, kandungan nutrisinya pun diketahui dan sesuai dengan kebutuhan tiap stadia. Solusinya adalah mengkombinasikan antara pakan alami dan pakan buatan sebesar 70:30 untuk mendapatkan yang terbaik dari keduanya.

Air

Menjaga kualitas air ibarat kewajiban nomor satu di budidaya udang karena pada media itulah udang hidup. Pengelolaan air yang umum dilakukan adalah membuat tandon, yaitu mengendapkan dan sterilisasi air sebelum dimasukkan ke tambak. Air yang masuk ke tandon biasanya disaring menggunakan jaring untuk menyaring plankton. Setelah itu air diberi chlorine untuk membunuh bakteri patogen. Water treatment juga dapat dilakukan secara biologis, yaitu dengan menggunakan ikan atau tanaman yang memperbaiki kualitas air.

Selain input dan wadah air, pembudidaya juga sebaiknya memperhatikan pipa. Seiring dengan waktu, biofilm—tumpukan sel-sel mikroorganisme yang membentuk suatu lapisan—akan mengerak di dalam pipa sehingga berisiko mengkontaminasi air. Untuk membersihkannya, dapat dengan mengalirkan disinfektan ke dalam pipa-pipa.

Lingkungan

Lingkungan di sekitar tambak juga berpotensi membawa kontaminan dan bibit penyakit, seperti keluar-masuknya petugas, kendaraan, bahkan gangguan dari hewan lain. Dalam hatchery udang, sebaiknya aksesibilitas manusia pun dibatasi, tidak boleh sembarang orang yang masuk tambak. Pada tahap biosekuriti yang ketat, roda kendaraan yang dari luar lingkungan tambak pun harus melalui 2 kolam: kolam pembersihan dan kolam disinfeksi. Untuk pencegahan masuknya hewan lain seperti burung, waring juga dapat dipasangkan di sekitar tambak.

Biaya Biosekuriti

Dilansir dari Trobos Maret 2017, biaya aplikasi biosekuriti ini sekitar Rp 4000 per kg udang yang diproduksi. Jika dikalkulasikan ke dalam komponen Har ga Pokok Produksi (HPP) udang dengan rata-rata Rp 35 – 40 ribu per kg dan harga jual sekitar Rp 80 – 90 ribu per kg, maka sebetulnya petambak masih bisa mencapai margin 100%. Ibaratnya, investasi di awal untuk udang yang bebas penyakit di akhir siklus.

Biosekuriti adalah tindakan pencegahan sebagai upaya meminimalisir penyakit pada udang. Selain biosekuriti, petambak juga biasanya menambahkan probiotik atau antibiotik sebagai pencegah penyakit. Namun, antibiotik menjadi masalah karena residunya terbawa sampai udang siap dikonsumsi. Contohnya, di tahun 2000 sampai 2007, ekspor udang ke Eropa ditolak karena terdeteksinya antibiotik. Maka, biosekuriti dapat menjadi pilihan sebagai upaya “sedia payung sebelum hujan”.

Semoga bermanfaat.


Sumber

Trobos Aqua, 2017. Biosekuriti Pembenihan Kuat, Benur Kuat. Trobos Aqua edisi 62 tahunn VI 15 Juli – 14 Agustus 2017.
Anonim, 2017. Sukenda: Pentingkan Biosekuriti Tambak Udang. http://www.trobos.com/detail-berita/2017/03/15/41/8609/sukenda-pentingkan-biosekuriti-tambak-udang–
SNI 8230-2016. Prosedur biosekuriti pada pembenihan ikan laut.
Arifin, 2007. Penerapan Best Management Practice *BMP) Pada Budidaya Udang Windu (Penaeus monodon Fabricius) Intensif. DKP DJPB, Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau, Jepara.

Sumber foto

http://lalaukan.blogspot.co.id/2013/12/mengenal-biosecurity-pada-kegiatan.html
https://en.m.wikipedia.org/wiki/File:Shrimp_hatchery.jpg

 

Bagikan:

Info Terbaru, Tips Budidaya, dan Promo Perikanan

Dapatkan informasi akuakultur terbaru dan promo-promo produk perikanan langsung ke email Anda!

Anda sudah terdaftar :)