Potensi Udang Pisang

Potensi Udang Pisang

Udang pisang, apakah itu?

Bagi sebagian sahabat pembudidaya udang, nama udang pisang mungkin pernah terlintas, atau bahkan sudah dikenal baik. Udang pisang (banana shrimp) atau yang dikenal juga sebagai udang putih adalah udang asli perairan Indonesia. Dikembangkan oleh Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, udang yang memiliki nama latin Penaeus merguensis ini digadang-gadang berpotensi membuka peluang usaha baru sekaligus mampu menyaingi pendahulunya, yaitu vannamei dan windu karena memiliki keunggulan yang layak dibandingkan.

Menurut Sugeng Rahardjo, Kepala BBPBAP, udang pisang memiliki beberapa keunggulan, di antaranya;

  • Siklus reproduksi lebih cepat

Dalam waktu 6 bulan, udang pisang dapat mencpapai bobot 30 – 40 gram per ekor dan dapat dijadikan induk. Berbeda dengan windu yang membutuhkan waktu 1,5 tahun untuk siap dijadikan indukan.

  • FCR lebih rendah

Banana shrimp masih memanfaatkan detritus dalam kolam sehingga pemberian pakan lebih hemat. Kebutuhan protein udang ini di kisaran 28 – 33%, lebih rendah dari yang dibutuhkan vannamei.

  • Lebih tahan penyakit

Setelah diuji di Jepara selama 2 tahun, udang pisang tidak menunjukkan adanya gejala-gejala, sehingga dapat dinyatakan bebas dari berbagai penyakit udang.

  • Indukan Lokal

Jika selama ini tantangan vannamei adalah karena benurnya didapat secara impor dari Hawaii, maka untuk budidaya udang pisang tidak perlu jauh-jauh. Indukan dapat ditemukan di perairan Indonesia sehingga akan lebih hemat dan lebih mudah mempersiapkan induk. Terlebih jika Balai sudah dapat memproduksi indukan dengan kualitas yang stabil.

  • Lebih menguntungkan

Udang pisang yang saat ini beredar di pasar lokal dipatok dengan harga Rp 90.000/kg dengan size 60. Harga ini lebih tinggi 10.000 dari udang vannamei dengan size yang sama.

udang pisang yang dikembangkan BBPBAP Jepara

Produksi udang pisang

Beberapa waktu yang lalu, BBPBAP Jepara baru saja memanen perdana udang pisang ini sebanyak 8 – 10 ton dari sekitar 8 kolam. Ukurannya 50 – 70 ekor/kg setelah melalui masa budidaya selama 4 bulan (padat tebar 150 ekor/m2). Selain itu juga Balai Jepara sedang berupaya untuk melakukan pembenihannya. Masih menurut Sugeng seperti yang dilansir dari majalah Trobos Aqua, hingga kini kapasitas produksi hatchery mampu menyediakan 18 juta ekor benur per tahun.

Tidak hanya Balai Jepara, Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Ujung Batee (Aceh) juga telah melakukan pembenihan. Dikatakan Muhamad, pengawas BPBAP Ujung Batee, budidaya udang ini sebetulnya sudah menjadi tren di Aceh semenjak 2 tahun yang lalu, tapi dengan cara tadisional. Budidaya udang pisang yang telah dilakukan oleh Balai Ujung Batee sendiri telah menghasilkan 1,5 – 3 ton per siklus dari satu kolam ukuran 3000 m2. “Saat ini sudah ada 2 kolam di Balai sehingga totalnya sekitar 4 – 5 ton udang per siklus dalam kurun waktu 4 bulan,” jelas Muhamad.

Adanya udang asli Indonesia ini berpotensi terciptanya produksi udang yang mandiri, dimulai dari penyediaan indukan yang didapat tanpa harus impor. Salam budidaya.


Sumber:

 

Bagikan:
BACA JUGA  Jamur Laut Picu Performa Vannamei

Info Terbaru, Tips Budidaya, dan Promo Perikanan

Dapatkan informasi akuakultur terbaru dan promo-promo produk perikanan langsung ke email Anda!

Anda sudah terdaftar :)