Nila dan Patin: Primadona Baru Lampung

Lampung merupakan salah satu provinsi produsen ikan terbesar di Indonesia. Ratusan ribu ton ikan dan udang dihasilkan dari 14 daerah budidaya. Tercatat lebih dari 60 ribu hektar lahan yang potensial tapi faktanya baru 10% saja yang termanfaatkan. Oleh karena itu, kini banyak pihak yang mendongkrak produksi budidaya air tawar Lampung dengan mengembangkan komoditas nila dan patin.

Dari Gabah Jadi Nila

Di daerah Tanggamus, salah satu area budidaya di Lampung, memiliki cerita tersendiri. Dilansir dari majalah Trobos edisi 63 th. 2017, seorang yang awalnya petani padi kemudian menyulap sawahnya menjadi kolam nila setengah hektar yang membawa keuntungan sebesar Rp 60 juta per siklus. Pembudidaya bernama Frans Sinarda ini menjalankan bisnis nila bersama rekannya seorang technical support dari produsen pakan yang mendampingi sekaligus sebagai pemasok bibit. Selama setahun terakhir juga, Frans mulai mengembangkan indutri pembenihan (hatchery) nila yang bibitnya didatangkan dari Subang, Jawa Barat.

Frans Sinarda (tengah) di kolam nilanya

 

Terpacu oleh kesuksesan Frans, tetangga dan warga sekitar pun mengikuti jejaknya. Sampai saat ini, ada sejumlah 40-an pembudidaya di 3 kecamatan Kabupaten Tanggamus, bersama-sama memproduksi nila di lahan seluas 20 hektar.

Kemitraan dalam Budidaya Patin

Lain halnya di daerah Lampung Timur, Lampung Selatan, Lampung Tengah, Pringsewu, dan Kota Metro, daerah budidaya ini dipusatkan untuk produksi patin. Ketua Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI) Aribun Sayunis mengungkapkan pentingnya menjalin kemitraan dan kerjasama antar pihak untuk memajukan industri ikan patin ini.

Dari lahan seluas 250 hektar, para anggota APCI dapat menghasilkan patin sebanyak 200 ton per bulan yang didistribusikan untuk pasar lokal juga ekspor. Pengolahan ikan menjadi fillet (daging tanpa tulang) banyak diminati bagi pasar ekspor sehingga APCI pun bekerjasama dengan produsen pakan untuk pengolahan fillet. Untuk benihnya, sama seperti nila, APCI menggandeng Balai Benih Sukamandi dari Subang sebagai pemasok benih patin.

Sepaham dengan Aribun, sistem kemitraan bagi pembudidaya pun terbukti berjalan baik menurut Among Mukardiyanto, perwakilan dari produsen pakan area Lampung. Seperti yang dipaparkannya di majalah Trobos edisi 62 th. 2017, pihak produsen pakan siap mendampingi sejak persiapan kolam, penebaran bibit, sampai pemanenan. Proses budidayanya pun disupervisi seperti praktek pemberian pakan dan pengendalian penyakit. Hal ini cukup menguntungkan baik bagi pembudidaya maupun pemilik kolam karena bisnisnya jadi terjamin. Selain proses, kepastian harga jual pun penting untuk dipegang. Oleh karenanya, sistem kemitraan APCI mematok harga jual sebesar Rp 13.500/kg bagi pembudidaya, lebih besar dari harga pasar yaitu Rp 12.500/kg. Syaratnya, panen ikan patin harus memiliki berat minimal 0,8 kg per ekor, sehingga bisa dimanfaatkan langsung untuk konsumsi maupun untuk produksi fillet.

Biasanya, yang menjadi kendala dalam budidaya adalah kurangnya modal, sarana, dan praktek budidaya yang tepat. Dengan adanya pendampingan oleh penyuluh/technical support, kerjasama dengan pemerintah atau pabrik untuk modal dan sarana, serta kebiasaan “guyub” atau bahu-membahu antar pembudidaya, tentu budidaya dapat didorong dan dikembangkan secara optimal.


Sumber

Trobos Aqua edisi 62 th. 2017. Potret Pengembangan Budidaya Patin Lampung.
Trobos Aqua edisi 63 th.2017. Nila Kian Populer di Lampung.
Anonim, 2016. CP Prima Turut Majukan Perikanan Lampung. http://www.cpp.co.id/id/news-events/corporate/cp-prima-promotes-lampung-fisheries
Supriyadi, 2015. Potensi Budidaya Perikanan Laut Lampung Sangat Besar. http://lampung.antaranews.com/berita/285230/potensi-budidaya-perikanan-laut-lampung-sangat-besar

Bagikan:

Info Terbaru, Tips Budidaya, dan Promo Perikanan

Dapatkan informasi akuakultur terbaru dan promo-promo produk perikanan langsung ke email Anda!

Anda sudah terdaftar :)