Lele Ikut Puasa?

Tidak hanya manusia saja yang dianjurkan untuk berpuasa demi kesehatan. Lele pun sebaiknya puasa untuk mengistirahatkan pencernaannya dan membuang racun. Tentu bukan puasa 30 hari berturut-turut seperti yang kita lakukan di bulan Ramadhan ini, melainkan cukup satu hari dalam seminggu.

Praktek yang sering ditemui di antara petani adalah memberi makan lelenya sampai kenyang dengan asumsi semakin banyak lele makan maka semakin besar pula lele yang dihasilkan. Semakin besar lele, maka akan semakin cepat panen. Namun, kenyataannya, berlebihan memberi pakan justru membuat petani merugi. Tim Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Forum Komunikasi Mina Pantura di Jateng, membandingkan lele yang diberi makan sekitar 80% dari daya kenyang lele dengan lele yang diberi makan sekenyangnya.

“Ternyata, lebih cepat besar yang 80% kenyang. Ketika makan 80%, sistem pencernaan lele punya waktu untuk menghasilkan enzim pemecah protein, karbohidrat, dan lemak,” papar M. Amir Shobirin, Ketua Litbang. Tambahnya lagi, lele yang kekenyangan cenderung berdiam menggantung di permukaan sehingga mudah diserang parasit. Jika terjadi kondisi yang mengejutkan, seperti riak air secara tiba-tiba, ikan yang lambungnya penuh akan mudah memuntahkan kembali pakan yang telah dimakannya.

Protein yang dimanfaatkan lele pun tidak seluruhnya, tetapi hanya sekitar 30% dari kadar unsur C (karbon), N (nitrogen), dan P (fosfor). Sisanya terbuang lewat ekskresi dan feses. Jika pakan berlebih dan terlalu tinggi kadar protein juga akhirnya terbuang dan menumpuk menjadi amoniak, nitrit, dan asam sulfida yang beracun bagi lele. Timbunan limbah ini akan menjadikan habitat ikan memburuk, seperti air berbusa, berwarna abnormal, dan sebagainya.

Selain itu, dengan memberi makan sekitar 80% saja, pakan pun bisa dihemat. Jika untuk menghasilkan 1 ton lele dengan metode adlibitum (sekenyangnya) butuh 1 ton pakan, maka jika kita menerapkan metode 80%, maka hanya diperlukan 8 kuintal saja untuk mencapai berat yang sama. Pakan yang terbuang pun selain mencemari media perairan, juga menimbulkan kerugian finansial. Bila setiap hari pakan terbuang sebanyak 10 kg, maka dengan harga pakan Rp 8000/kg, potensi kerugiannya Rp 80.000/hari. Dalam hitungan bulan, kerugiannya akan terasa cukup besar.

Oleh karena itu, manajemen pakan lele penting untuk diperhatikan. Selain menghemat dengan metode 80%, lele juga dianjurkan puasa sehari dalam seminggu. Tujuannya untuk detoks sistem pencernaan dan memberi waktu untuk pergantian sel-sel organ pencernaan sehingga lebih sehat. Tidak hanya itu, puasa lele juga mampu mengurangi bau pelet pada malam hari dan memberi waktu bagi organisme di kolam untuk mengurai limbah organik. Sebetulnya, lele tidak 100% puasa. Ketika lele “berpuasa” pakan yang diberi manusia, lele akan tetap memanfaatkan pakan alami berupa flok berupa plankton yang ada di dalam kolam.

Pada dasarnya, pemberian pakan terprogram lebih baik daripada pemberian pakan sampai kenyang (dan jarang-jarang). Selain menjadikan ikan lebih sehat, kualitas air lebih bersih, FCR juga menjadi lebih baik.

Bagikan:
BACA JUGA  Bantuan Langsung bagi Perikanan Budidaya

Info Terbaru, Tips Budidaya, dan Promo Perikanan

Dapatkan informasi akuakultur terbaru dan promo-promo produk perikanan langsung ke email Anda!

Anda sudah terdaftar :)