Inilah Penyebab Kematian Mendadak Ribuan Nila di KJA Saguling

Kematian Massal Nila di Saguling
Rugi Ratusan Juta

Beberapa waktu yang lalu, petani KJA di Waduk Saguling dibuat terkejut karena hampir seluruh ikan nila mati mendadak di keramba. Seorang petani setempat mengatakan bahwa dari 20 keramba, nila pada 18 keramba semuanya mengambang, baik dalam keadaan lemas dan mati. Sedikitnya 5 ton ikan milknya gagal panen dengan kerugian mencapai Rp 95 juta. Di area KJA Waduk Saguling sendiri terdapat ratusan petani lainnya sehingga kerugian total dapat mencapai ratusan juta rupiah.

Untuk mengurangi kerugian, petani kemudian menjual ikan yang masih layak dengan harga murah, yaitu di harga Rp 8000/kg dimana harga normal bisa dijual Rp 18.000/kg. Tidak sedikit pula yang membagi-bagikan ikan tersebut pada warga sekitar secara gratis atau bahkan dibuang.

Ribuan ikan nila yang mati
Ribuan ikan nila yang mati
Keracunan Amonia

Menurut Badan Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BIKPM), penyebab kematian massal ini adalah perubahan cuaca yang berdampak pada menurunnya kualitas air. Tidak diragukan lagi, kualitas air sangat mempengaruhi kesehatan ikan. Faktor seperti suhu, kadar oksigen, nilai pH, dan komposisi senyawa organik seperti amonia di dalamnya harus seimbang karena jika tidak maka akan membahayakan ikan. Inilah yang terjadi pada kasus ini, dimana saat BIKPM mengecek kadar amonia, hasilnya adalah 0,1 ppm dari batas 0,002 ppm yang disarankan. Pada kadar amonia tersebut, ikan tidak mampu mengekstrak energi dari pakan secara efisien sehingga akhirnya lemas dan mati.

Senyawa amonia dalam perairan budidaya dihasilkan dari tumpukan kotoran ikan dan sisa pakan. Kadar amonia yang berbahaya kemudian dipicu oleh perubahan suhu dan pH. Contohnya, ketika musim hujan air keramba akan menjadi lebih dingin (suhu turun) dan lebih “asam” (pH turun), sehingga amonia yang sudah terakumulasi di media perairan menjadi beracun bagi ikan dalam skala besar. Cuaca panas yang menjadikan air lebih hangat pun dapat memicu penambahan molekul amonia yang berbahaya.

Solusi

Jika ikan di keramba sudah banyak terlihat lemas bahkan mengambang mati, sebaiknya petani segera memanen ikan agar kematian tidak terus bertambah. Untuk pencegahannya, langkah yang dapat diambil antara lain;

         Mengurangi padat tebar. Jumlah ikan berkorelasi dengan kotoran yang menumpuk menjadi senyawa amonia.

         Mengurangi penggunaan pakan. Pemberian pakan yang efisien (tidak banyak bersisa) akan membantu mengontrol jumlah senyawa amonia.

         Menambah sirkulasi air. Kandungan oksigen terlarut yang cukup akan menyeimbangkan tingkat toksisitas amonia.

Kejadian kematian massal di KJA Waduk Saguling ini bukanlah yang pertama kali. Pada awal tahun, sekitar bulan Februari, ribuan nila juga mati serentak di banyak blok keramba. Kualitas air yang buruk pun disebut sebagai sumber masalahnya. Untuk itu, ada baiknya jika faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas air diperiksa secara berkala agar mencegah kerugian besar.


Sumber:

http://www.galamedianews.com/bandung-raya/163055/puluhan-ton-ikan-mati-petani-di-kawasan-waduk-saguling-rugi-ratusan-juta.html
http://www.pikiran-rakyat.com/bandung-raya/2017/02/15/cuaca-ekstrem-1-ton-ikan-di-waduk-saguling-mati-massal-393607
http://www.isw.co.id/single-post/2016/05/21/Mengontrol-Kadar-Ammonia-dalam-Budidaya-Perikanan

Bagikan:

Info Terbaru, Tips Budidaya, dan Promo Perikanan

Dapatkan informasi akuakultur terbaru dan promo-promo produk perikanan langsung ke email Anda!

Anda sudah terdaftar :)